Nelly- Just A Dream

Minggu, 06 April 2014

Mari Belajar Menjadi Orang Tua Yang Lebih Sabar

Foto : copyright shutterstock


Orang tua adalah figur terdekat yang ditemui anak setiap hari. Kebanyakan anak meniru sikap dan perilaku orang tuanya seperti yang dilihatnya sehari-hari. Namun kebanyakan orang tua sulit mengendalikan emosinya ketika berurusan dengan anak yang sedang rewel. Kadang beberapa orang tua marah tidak jelas ke anaknya ketika sangat sibuk dengan pekerjaannya atau sedang ada masalah. Ingat, anak-anak juga bisa menirukan bagaimana cara Anda melampiaskan kemarahan. Jika masih sering marah-marah pada anak, yuk belajar lebih sabar dilansir dari todaysparent.com.

1. Berteman dengan emosi Anda
Emosi bukan hanya rasa marah dan sedih. Emosi adalah gabungan semua perasaan baik sedih, senang, marah, dan lainnya. Jika Anda mampu mengontrol emosional Anda, maka bisa dengan mudah Anda menempatkan dan mengungkapkan emosi Anda. Bertemanlah dengannya, bagaimana caranya? Rangkul emosional Anda seperti layaknya teman Anda, ketika Anda merasa akan marah, ingatlah Anda harus bersabar, apa yang Anda lakukan akan ditiru anak Anda.

2. Tunda luapan emosi Anda

Diam adalah emas. Mungkin peribahasa ini sangat tepat jika dikondisikan untuk Anda yang sedang diselimuti rasa marah. Cara melampiaskan amarah yang mungkin tidak terlalu beresiko adalah diam. Ambil waktu untuk diam, gunakan waktu ini untuk meredakan emosi Anda. Jika sudah tenang, mulailah berpikir apakah pantas Anda marah.

3. Masalah yang datang tiba-tiba

Bagaimana reaksi Anda ketika si kecil memecahkan gelas kesayangan Anda? Ingat, gelas atau benda apapun bisa Anda beli, tetapi si kecil adalah pemberian Tuhan yang tidak mudah Anda dapatkan. Ingatlah ini, apapun masalah yang di dunia ini tidak ada yang terjadi tiba-tiba, semua ada awalnya dan pasti ada hikmahnya. Mungkin selama ini Anda kurang mengajarkan pada anak untuk berhati-hati.

4. Lebih dekat dengan anak

Anda lebih mudah berkompromi dengan anak jika Anda dekat dengannya bukan? Dekat dengan anak memiliki banyak sekali manfaat. Anda lebih mudah mengajari anak dan tentu saja bisa menjadi hiburan tersendiri ketika Anda sedang stres. Dekat bukan berarti memanjakan, ajari anak Anda untuk menjadi pribadi yang mandiri sesuai dengan usianya. Hal seperti ini tentunya juga sangat membantu Anda, terutama bagi Anda ibu yang juga bekerja.

Tips Membuat Anak Lebih Disiplin Tanpa Kekerasan


Membuat anak disiplin itu sangat perlu ladies. Anda harus mengajari mereka bagaimana cara menghargai waktu dan segala hal sejak usia dini. Memang tidak mudah mengajari anak-anak. Mereka sering memberontak bahkan kadang tidak mengerti. Nah, di sinilah peran Anda untuk mengajari mereka. Tidak perlu menggunakan kekerasan cukup dengan kelembutan dan kasih sayang anak Anda akan tumbuh menjadi anak yang lebih disiplin.
Seperti yang dilansir oleh ehow.cominilah tips mudah yang bisa Anda ajarkan pada anak-anak Anda
Berbagi Tanggung Jawab
Berbagi tugas membersihkan rumah bisa menjadi ide yang bagus. Berikan dia pekerjaan yang sesuai untuk usianya misalnya membersihkan mainannya sendiri atau kamar tidurnya itu sudah cukup untuk dia. Lakukan bersama-sama dengannya hal ini akan membuat dia bertanggung jawab serta disiplin terhadap hal yang ia lakukan sendiri.
Tunjukkan Kasih Sayang Anda
Membuat anak Anda disiplin berbeda dengan cara membuatnya takut. Kekerasan pada anak hanya akan membuat kepribadian terganggu. Ajarkan anak disiplin yang benar, jangan lupa selalu menunjukkan sayang Anda pada mereka. Berikan mereka pelukan serta ciuman hal ini akan membentuk mereka menjadi pribadi yang disiplin serta lembut.
Berikan Contoh Dari Diri Anda
Anak-anak cenderung akan meniru berbagai hal yang ia lihat. Sebagai orang tua Andalah contoh terdekat yang dapat di tiru oleh mereka. Nah, berikanlah beberapa contoh disiplin dari diri Anda sendiri. Mulai dari kebiasaan serta hal-hal yang Anda lakukan. Kebiasaan inilah yang juga akan membentuk kepribadian anak.
Memberikan Peringatan
Disini bukan berarti Anda mengancam atau membuatnya takut. Berikan anak Anda peringatan ketika anak Anda mulai membandel. peringatan kecil bisa Anda lakukan agar dia mengerti. Jangan berkata kasar atau bertindak keras padanya cukup berikan kata-kata yang pada akhirnya ia tidak akan mengulangi perbuatannya
Pola pengasuhan anak

Psikologi perkembangan telah lama tertarik pada bagaimana dampak pola asuh anak terhadap perkembangan anak. Namun, tidak mudah menemukan hubungan sebab-akibat antara tindakan spesifik orang tua dan perilaku anak-anak. Beberapa anak dibesarkan dalam lingkungan tertentu di mana ia tumbuh hingga memiliki kepribadian yang sangat mirip dengan "lingkungannya". Sebaliknya, beberapa anak yang lain yang dibesarkan di lingkungan yang sama tumbuh dan memiliki kepribadian mengejutkan yang berbeda dengan anak yang lain. 

Dengan berbagai macam tantangan tersebut, para peneliti berusaha menemukan hubungan yang meyakinkan antara pola pengasuhan anak dan efeknya terhadap perkembangan kepribadian anak. Psikolog Diana Baumrind melakukan penelitian pada lebih dari 100 anak usia prasekolah dengan menggunakan observasi naturalistik, wawancara orangtua dan metode penelitian lainnya. Ia kemudian mengidentifikasi 4 dimensi penting dalam
 pola pengasuhan anak: 

Pola Otoriter
 
Dalam pola ini, anak-anak diharapkan untuk mengikuti aturan ketat yang ditetapkan oleh orang tua. Kegagalan untuk mengikuti aturan seperti biasanya menghasilkan hukuman. Orang tua yang otoriter gagal untuk menjelaskan alasan di balik aturan-aturannya. Jika diminta untuk menjelaskan, orang tua mungkin hanya menjawab, "Karena aku bilang begitu." Para orangtua memiliki tuntutan yang tinggi, tetapi tidak responsif terhadap anak mereka. Menurut Baumrind, dalam pola otoriter orang tua mutlak untuk ditaati tanpa penjelasan.
 

Pola Otoritatif
 
Seperti orang tua otoriter, orang tua dengan pola pengasuhan otoritatif menetapkan aturan dan pedoman di mana anak diharapkan mengikuti. Namun, pola pengasuhan ini jauh lebih demokratis. Orang tua otoritatif responsif terhadap anak mereka dan bersedia untuk mendengarkan pertanyaan. Ketika anak gagal memenuhi harapan, para orang tua lebih memilih memaafkan daripada menghukum. Baumrind menunjukkan bahwa orang tua memantau dan menyampaikan standar yang jelas bagi perilaku anak mereka. Mereka tegas, tapi tidak mengganggu dan membatasi. Metode disiplin mereka berbentuk dukungan, bukan hukuman. Mereka ingin anak mereka bersikap tegas serta bertanggung jawab secara sosial dan disiplin terhadap diri sendiri.
 

Pola Permisif
 
Orangtua yang permisif kadang-kadang disebut sebagai orang tua yang memanjakan, memiliki sedikit tuntutan terhadap anak mereka. Para orangtua permisif jarang mendisiplinkan anak mereka karena mereka memiliki ekspektasi yang relatif rendah dalam kematangan dan kontrol diri. Menurut Baumrind, orangtua permisif lebih responsif daripada menuntut. Orangtua Permisif umumnya memelihara komunikasi dengan anak-anak mereka, lebih sering berstatus sebagai teman bagi anak-anaknya daripada sebagai orang tua.
 

Pola Tidak Terlibat
 
Pola pengasuhan tidak terlibat ditandai dengan beberapa tuntutan, respon rendah dan sedikit komunikasi. Sementara orang tua memenuhi kebutuhan dasar anaknya, mereka umumnya terpisah dari kehidupan anak mereka. Dalam kasus ekstrim, orang tua dengan pola ini bahkan dapat menolak atau mengabaikan kebutuhan anak mereka.
 

Dampak Pola Pengasuhan terhadap Perkembangan Anak
 

Selain studi awal Baumrind terhadap 100 anak prasekolah, para peneliti telah melakukan sejumlah penelitian lain yang memunculkan sejumlah kesimpulan tentang dampak pola pengasuhan terhadap perkembangan anak. 



Pola pengasuhan otoriter umumnya menyebabkan anak patuh dan pintar, tapi mereka kurang dalam kebahagiaan, kompetensi sosial dan harga diri.
Pola pengasuhan otoritatif cenderung menghasilkan anak yang bahagia, kompeten dan sukses.
Pola pengasuhan permisif sering menyebabkan anak kurang bahagia dan disiplin. Anak lebih mungkin mengalami masalah dengan aturan dan cenderung berkinerja buruk di sekolah.
Pola pengasuhan tidak terlibat menyebabkan anak kurang di semua aspek kehidupan. Anak cenderung kurang kontrol diri, memiliki harga diri yang rendah dan kurang kompeten dibandingkan rekan-rekan mereka.


Mengapa pola otoritatif memberikan lebih banyak keuntungan dibanding pola lain? Karena, ketika anak-anak melihat permintaan orangtua mereka adil dan masuk akal, maka mereka cenderung patuh.
 

Dalam rangka menciptakan pendekatan kohesif dalam mengasuh anak, penting bagi orang tua untuk belajar bekerja sama dengan menggabungkan berbagai elemen pola pengasuhan yang unik. Gabungan pola pengasuhan dari kedua orang tua bisa saja menciptakan perpaduan unik dalam setiap keluarga. Misalnya, si ibu menampilkan gaya otoritatif sementara ayah memilih pendekatan yang lebih permisif. 



Disarikan dari :
Sabtu, 22 Maret 2014 16:00http://www.vemale.com/relationship/keluarga/53122-mari-belajar-menjadi-orang-tua-yang-lebih-sabar.html
Selasa, 18 Maret 2014 16:30http://www.vemale.com/relationship/keluarga/52111-tips-membuat-anak-lebih-disiplin-tanpa-kekerasan.html
7 Nov 2013 - Dikilasinfokan Oleh : Sri Widyastuti Rusli

http://www.kilasinfo.com/2013/11/4-pola-asuh-anak-dan-dampaknya-terhadap.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar