Knowledge (Pengetahuan)
•
Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang
suatu objek yang terdapat di sana, di depan subjek, yang dapat dijangkau oleh
pandangan dan oleh tangan manusia.
•
Permasalahan kritis di sini adalah kompleksitas
pengetahuan manusia yang sulit dijangkau secara lengkap, utuh, dan paripurna
oleh budi manusia yang terbatas.
•
Pengetahuan itu dikatakan indrawi lahir atau indrawi
luar kalau orang mencapainya secara langsung, melalui penglihatan,
pendengaran, pembau, perasaan, serta peraba setiap kenyataan yang
mengelilinginya.
•
Pengetahuan itu dinamakan pengetahuan indrawi batin
ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan, baik
mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang
terdapat di luar jangkauannya. Pengetahuan seterusnya disebut perseptif,
ketika sambil muncul secara spontan, pengetahuan itu memungkinkan orang untuk
menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan. Pengetahuan
dalam arti ini lebih menyatakan dirinya melalui gerakan tangan, tingkah laku,
gerakan-gerakan, sikap-sikap, tindakan, serta jerit teriakan, daripada dengan
perkataan yang dipikirkan atau dengan keterangan yang jelas.
•
Ada juga yang disebut pengetahuan refleksif,
ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun
juga. Pengungkapannya adalah, baik dalam bentuk ide, konsep, definisi, serta
putusan-putusan maupun dalam bentuk lambang, mitos, atau karya-karya seni. Pengetahuan disebut pula diskursif, ketika
pengetahuan itu memperhatikan suatu aspek dari benda kemudian suatu aspek yang
lain, ketika pengetahuan itu pergi dan datang dari keseluruhan ke
bagian-bagian, dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pengetahuan dalam arti
ini lebih menampakkan diri sebagai sesuatu yang datang dari sebab ke akibat dan
dari akibat ke sebab, dari prinsip ke konsekuensi dan dari konsekuensi ke
prinsip, dan sebagainya.
•
Seterusnya, ada pula yang disebut pengetahuan intuitif,
ketika pengetahuan menangkap atau memahami secara langsung benda atau situasi
dalam salah satu aspeknya, keseluruhan dalam satu bagian, sebab dalam akibat,
konsekuensi dalam prinsip, dan sebagainya. Pengetahuan itu adalah induktif, bila menarik
yang universal dari yang individual, dan sebaliknya deduktif, bila menarik yang
individual dari yang universal. Pengetahuan itu kontemplatif, bila
mempertimbangkan benda-benda dalam dirinya dan untuk dirinya sendiri.
Pengetahuan itu disebut spekulatif, bila mempertimbangkan benda-benda
dalam bayangan-bayangan dan ide-ide, atau konsep-konsep tentang benda-benda
itu. Praktis, kalau mempertimbangkan benda-benda menurut bagaimana
mereka bisa dipergunakan. Pengetahuan itu sinergis, kalau merupakan
akumulasi dari seluruh daya kemampuan dari subjek (yang sedang mengetahui).
Keseluruhan jenis pengetahuan ini dikoordinasikan dari anggota-anggotanya,
organ-organnya, dan kemampuan-kemampuannya, yang indrawi dan intelektif. Akhirnya, pengetahuan menjadi sangat kompleks dan
beraneka ragam sifat dan bentuknya. Pengetahuan pun tampak di dalam
banyak bentuknya yang berbeda-beda. Pengetahuan memakai bermacam-macam jalan,
menurut bagaimana cara diambil, baik itu berupa objek maupun makhluk
berbeda-beda yang tipe dan realitasnya berlain-lainan tingkat dan macamnya.
Pengetahuan tentang materi, tentang luasnya, tentang gerakan, tentang hidup,
tentang manusia, berbeda sekali satu sama lainnya.
•
Pendeknya, tidak baik kalau pengetahuan manusia yang
begitu kaya dan kompleks direduksikan kepada salah satu dari cara-caranya, atau
kalau satu cara atau bentuknya terlalu ditekankan atau dimutlakkan sehingga
merugikan lainnya.
Intelligence
(Pengertian)
•
Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus
dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Kata intellegere terdiri
dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal, dan kata legere
yang berarti membaca atau menangkap. Kata
intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala
hal dan menangkap artinya yang dalam.
•
Menjadi inteligen berarti menangkap apa yang
fundamental pada jenis ini atau macam ada yang itu, berarti menangkap
apa yang esensial dari suatu gejala. melihat apa yang hakiki dalam kegiatan ini
atau itu (menambah. mengurangi, mengalihkan, atau membagi).
•
Inteligensi adalah
kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi,
dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi, ingatan,
konseptual, abstraksi, imajinasi, atensi, konsentrasi. seleksi relasi, rencana,
ekstrapolasi, prediksi, kontrol (pengendalian), memilih, mengarahkan. Berbeda
dengan naluri, kebiasaan, adat istiadat, hafalan tanpa mempergunakan pikiran,
tradisi.
•
Pada tingkat intelek (pemahaman) yang lebih tinggi,
inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah
(soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak.
•
Tingkat-tingkat inteligensi yang lebih tinggi berisi
unsur-unsur seperti simbolisasi dan komunikasi pemikiran abstrak, analisis
kritis, dan rekonstruksi untuk diterapkan pada kemungkinan-kemungkinan lebih
lanjut dan/atau pada situasi-situasi yang terkait, entah praktis atau teoretis
(Lorens Bagus, 1996: 359). Demikianlah, hal-hal yang berada pada tiap-tiap
tahap perkembangan pengetahuan intelektif tidak dapat dipandang sebagai
keseluruhan inteligensi itu sendiri.
•
Bentuk-bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari
tahap-tahap yang paling rendah (sederhana) sampai ke tahap yang lebih tinggi
(kompleks). Pengetahuan itu berjalan dari tahap yang tidak sadar sampai kepada
tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif.
Pengetahuan pada tahap sadar ini memiliki sistematisasi dan refleksi.
Pengetahuan intelektif yang paling rendah atau yang paling sederhana adalah
penglihatan atau penanggapan (persepsi). Kegiatan intelektif pada tahap
yang rendah atau sederhana ini umumnya digerakkan secara tidak sadar dan
prareflektif. Persepsi ini, misalnya, tampak pada refleksi spontan, prasadar,
dan prapribadi.
Sumber; binusmaya, pada tanggal 19 juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar